1. Kapan iqamah dikumandangkan???
كَانَ مُؤَذِّنُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُمْهِلُ فَلَا يُقِيمُ حَتَّى إِذَا رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَرَجَ أَقَامَ الصَّلَاةَ حِينَ يَرَاهُ
“Mu’adzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak segera mengumandangkan iqamah, maka ketika ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar, ia pun mengumandangkannya.” (HR. Tirmidzi dari Jabir bin Samurah, dihasankan oleh Al-Albani)
2. Pada dasarnya Imam ditunggu sampai muncul atau diketahui akan keluar.
أَخَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الصَّلَاةَ فَجَاءَ عُمَرُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَقَدَ النِّسَاءُ وَالْوِلْدَانُ
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menangguhkan shalat ini, maka Umar datang dan mengatakan; ‘Ya Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tertidur.’ (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas)
3. Hak untuk iqamah adalah imam sedangkan adzan adalah muadzin.
الْمُؤَذِّنُ أَمْلَكُ بِلْأَذَانِ وَالْإِمَامُ أَمْلَكُ بِالْإِقَامَةِ
Muadzin lebih berhak dalam hal adzan, dan imam lebih berhak dalam hal iqamah. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Abu Hafs Al-Kattani, Al-Baihaqi dari Ali. Dishahihkan oleh Al-Albani)
4. Larangan shalat sunnah ketika mulai iqamah.
إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ
“Jika iqamah telah dikumandangkan, maka tak ada shalat selain shalat wajib.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
a. Al-Iraqi: Hendaknya makmum bersiap untuk mendapatkan takbiratul ihram bersama Imam sehingga mamum dilarang sejak iqamah dimulai.
b. Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar: Larangan di atas untuk seluruh shalat sunnah.
c. Abu Hanifah: Boleh shalat sunnah selama tidak khawatir tertinggal rakaat kedua.
d. Jumhur Ulama (Malik, Syafi’i, Ahmad): Tinggalkan shalat sunnah meskipun shalat sunnah yang utama, seperti qabliyah Shubuh.
e. Asy-Syaukani dan Al-Mubarak Furid: Menguatkan pendapat jumhur.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















