Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid Karya Syaikh Shaleh al-Utsaimin
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (7)
Mereka menunaikan Nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. (QS. Al-Insan[76]: 7)
Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلَا يَعْصِهِ
Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, hendaknya ia menaati-NYA, dan barangsiapa bernadzar untuk bermaksiat kepadaNya, maka janganlah ia perturutkan untuk bermaksiat kepadaNYA.” (HR. Bukhari)
Faidah-faidah Ayat dan Hadits di Atas:
- Nadzar bagi selain Allah adalah termasuk syirik. Karena nadzar adalah ibadah maka mengalihkan ibadah bagi selain Allah maka menjadilah pelakunya musyrik.
- Jika seorang bernadzar menyebut fulan, kuburan, demi malaikat, demi pohon, demi jin, demi syaikh, atau ucapan-ucapan lain yang sejenis termasuk kesyirikan.
- Nadzar yang paling berbahaya adalah nadzar syirik melebihi nadzar maksiat. Setiap nadzar syirik pasti maksiat, tetapi tidak semua nadzar maksiat termasuk nadzar syirik. Nadzar syirik berarti bernadzar yang ditujukan bukan kepada Allah sedangkan nadzar maksiat bisa jadi untuk Allah tetapi sesuatu yang diharamkan oleh Allah.
- Nadzar syirik tidak ada kafarah baginya tetapi wajib bertaubat sedangkan nadzar maksiat dikenakan kafarah sama dengan kafarah sumpah.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















