Al-Qaulus Sadid (Syarah Kitabut Tauhid) oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162)
Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’an[6]: 162)
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ
“Allah mengutuk orang yang menyembelih untuk selain Allah, dan mengutuk orang yang melindungi tindak kejahatan, mengutuk orang yang mencaci kedua orang tuanya, dan mengutuk orang yang memindahkan tanda batas tanah.” (HR. Muslim dari Ali bin Abi Thalib)
Faidah-faidah Ayat dan Hadits di Atas:
- Menyembelih kepada selain Allah adalah sebuah kesyirikan yang nyata.
- Telah ditetapkan bahwa menyembelih binatang diniatkan sebagai bentuk ibadah dan lambang ketaatan yang benar.
- Menyembelih hewan yang diniatkan bukan untuk Allah termasuk syirik akbar (mengeluarkan seseorang dari Islam).
- Menyembelih adalah syirik akbar karena telah mengarahkan suatu macam atau suatu bentuk peribadatan kepada selain Allah.
- Ada empat golongan yang dilaknat oleh Allah pada hadits di atas yaitu:
a. Orang yang menyembelih binatang dengan berniat bukan karena allah.
b. Melaknak kedua orang tuanya
c. Melindungi pelaku kejahatan (bid’ah)
d. Mengubah batas tanah (merampas hak orang lain, -pen) - Hal yang pertama yang dilaknan dari empat golongan di atas adalah menyembelih binatang dengan niat bukan untuk Allah. Ini menunjukkan betapa pentingnya kita berhati-hati terhadap perbuatan tersebut.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















