Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (4) أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (5)
Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (QS. Shad[38]: 4-5)
Faidah-faidah Ayat di Atas:
- Menurut orang Musyrik satu kepalsuan dan kerusakan yang besar kalau yang diibadahi itu hanya satu maka suatu keheranan bagi orang Musyrik jika mereka dilarang mengambil atau membuat Tuhan baru atau Tuhan tandingan. (Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Manan — Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)
- Orang Musyrik menganggap Rasulullah (Muhammad) berdusta karena tiga hal (alasan):
a. Karena mengingkari sesembahan yang banyak (sesembahan nenek moyangnya) lalu mau menjadikan sesembahan yang benar itu satu bagi orang Musyrik itu mustahil.
b. Orang Musyrik mengaku belum pernah mendengar tentang Tauhid Ibadah yang diserukan oleh Muhammad, karena agama yang terakhir yang didengar oleh orang Musyrik yaitu Nasrani mengajarkan trinitas.
c. Tidak mungkin Muhammad itu secara khusus menerima al-Qur’an karena masih ada orang yang mempunyai kemuliaan dan keagungan, kepemimpinan dan kecerdasan melebihi Muhammad.
(Tafsir al-Maraghi — Syaikh Ahmad Musthafa al-Maraghi) - Pembesar Musyrikin merasa terkejut, ditengah kebiasaan mereka Musyrik lalu tiba-tiba datang seorang pemberi peringatan (Muhammad) mendakwahkan agar mentauhidkan Allah dalam perkara sesembahan mereka. (Tafsir Fi Zhilalil Qur’an — Sayyid Quthb)
CATATAN:
Pelaku syirik merasa terkejut dengan orang yang menyerukan Tauhid Ibadah (Uluhiyah) bukan lagi hal baru tetapi sudah menjadi watak dari orang Musyrik. Keheranan, terkejutnya, keanehan, keasingan, ketidakcocokan, ketidaknyamanan bahkan bagi mereka kemustahilan bagi pikiran, keyakinan kalau ada penyeru atau pendakwah Tauhid Uluhiyah (Ibadah). Ini berlaku sepanjang zaman tidak pernah mereka bisa kompromi antara syirik dengan tauhid bagaikan timur dengan barat.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















