وآخر الرسل محمد صلى الله عليه وسلم وهو الذي كسر صور هؤلاء الصالحين أرسله الله إلي أناس يتعبدون ويحجون ويتصدقون ويذكرون الله كثراً ولكنهم يجعلون بعض المخلوقات وسائط بينهم وبين الله.
TERJEMAHAN:
Adapun rasul terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaulah yang menghancurkan patung-patung orang-orang shaleh tersebut. Allah mengutusnya kepada kaum yang sudah terbiasa beribadah, menunaikan haji, bersedekah, serta banyak berdzikir kepada Allah , tetapi mereka menjadikan sebagian makhluk sebagai perantara antara mereka dengan Allah.
Faidah-faidah Kalimat di Atas:
- Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sebagai Rasul terakhir telah dengan tegas menghancurkan sesembahan-sesembahan orang Musyrik yang berupa patung orang-orang shaleh.
- Orang-orang Musyrik di masa Nabi juga rajin beribadah, berhaji, bersedekah, dan banyak berdzikir tetapi mamiliki satu penyakit yang paling berbahaya yaitu: menjadikan makhluk sebagai saingan Allah dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (berarti tidak memiliki tauhid ibadah/ uluhiyah)
- Orang-orang Musyrik beribadah sangat luar biasa banyaknya tetapti nereka juga beribadah kepada Malaikat, Nabi (seperti Isa), bahkan beribadah kepada orang-orang shaleh, semua itu menjadi saingan-saingan atau sekutu-sekutu bagi Allah.
- Kalau kemusyrikan orang Jahiliyah dahulu yang diperangi oleh Rasulullah itu masih sangat terbatas karena masih pada hamba-hamba Allah yang shaleh tetapi pada zaman sekarang ini sungguh kemusyrikan itu jauh lebih hebat selain lebih banyak malah lebih bervariasi, tidak hanya terbatas pada orang shaleh tetapi makhluk yang ebih hina pun diibadahi.
- Menyerahkan satu cabang ibadah apapun selain kepada Allah itulah kebatilan yang sangat nyata dan inilah inti pelanggaran orang musyrik zaman dahulu dan sekarang karena mereka telah mengabaikan peraturan Allah bahwa yang berhak diibadahi semata hanyalah Allah satu-satunya sesembahan yang haq yang lain adalah kebatilan (tauhid uluhiyah).
Dikutip dan disimpulkan dari:
Kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















