a. Dianjurkan melihat ke tempat sujud.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَعْبَةَ مَا خَلَفَ بَصَرُهُ مَوْضِعَ سُجُدِهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْهَا
Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memasuki Ka’bah, pandangan beliau tidak pernah berpaling dari tempat sujudnya hingga beliau keluar kembali dari Ka’bah. (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi)
b. Dilarang menutup mata pada waktu shalat karena menyelisihi sunnah yakni dengan memandang, sebagaimana pada hadits:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَعْبَةَ مَا خَلَفَ بَصَرُهُ مَوْضِعَ سُجُدِهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْهَا
Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memasuki Ka’bah, pandangan beliau tidak pernah berpaling dari tempat sujudnya hingga beliau keluar kembali dari Ka’bah. (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi)
c. Dilarang menyibukkan mata pada sesuatu yang mengganggu shalat.
لَيْسَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي الْبَيْتِ شَيْءٌ يَشْغَلُ الْمُصَلِّيَ
Tidak selayaknya di Ka’bah terdapat sesuatu yang menyibukkan orang yang melakukan shalat. (HR. Abu Dawud, Ahmad dari Utsman bin Thalhah)
d. Dilarang mengangkat pandangan ke langit (melihat ke atas) seperti atap dan sebagainya.
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلَاةِ أَوْ لَا تَرْجِعُ إِلَيْهِمْ
Hendaklah suatu kaum menghentikan untuk mengangkat pandangan mereka ke langit dalam shalat atau (kalau tidak), niscaya pandangan tersebut tidak kembali kepada mereka (buta). (HR. Bukhari, Muslim, As-Sarraj dari Jabir bin Samurah)
e. Dilarang menoleh kiri-kanan jika tidak ada keperluan.
فَإِذَا صَلَّيْتُمْ فَلَا تَلْتَفِتُوا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْصِبُ وَجْهَهُ لِوَجْهِ عَبْدِهِ فِي صَلَاتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ
Bila kalian shalat, maka janganlah menoleh, karena Allah menghadapkankan wajah-Nya ke wajah hambaNya saat shalat, selama ia tidak menoleh. (HR. Tirmidzi, Al-Hakim dari Al-Harits bin Al-Harits)
اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ
Sambaran yang sangat cepat yang dilakukan oleh setan terhadap shalatnya hamba. (HR. Bukhari, Abu Dawud dari Aisyah)
لَا يَزَالُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ فِي صَلَاتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ فَإِذَا الْتَفَتَ انْصَرَفَ عَنْهُ
Allah Azza wa Jalla senantiasa menghadap kepada seorang hamba dalam shalatnya selama dia tidak menoleh, apabila ia menoleh, maka Allah pun berpaling darinya. (HR. Abu Dawud dariAbu Dzar. Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
وَنَهَانِي عَنْ نَقْرَةٍ كَنَقْرَةِ الدِّيكِ وَإِقْعَاءٍ كَإِقْعَاءِ الْكَلْبِ وَالْتِفَاتٍ كَالْتِفَاتِ الثَّعْلَبِ
Dan melarangku mematuk (dalam shalat) seperti ayam mematuk, duduk seperti duduknya anjing dan berpaling seperti berpalingnya serigala. (HR. Ahmad, Abu Ya’la)
KESIMPULAN:
- Dianjurkan untuk melihat ke tempat sujud bukan memejamkan mata (kecuali ada gangguan).
- Dianjurkan menjaga pandangan dan dilarang melihat ke atas, ke bawah, ke samping kiri kanan.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















