- Dari Qurrah bin Iyas, dia menceritakan, “Umar bin al-Khaththab melihatku shalat di antara dua tiang, kemudian dia memegang tengkukku dan (menarikku ke belakang lalu) mendekatkanku ke sutrah. Setelah itu, dia berseru, ‘Shalatlah dengan menghadap kepadanya!’” (HR. Bukhari secara mu’allaq dan Ibnu Abi Syaibah secara maushul)
- Dari Abdullah bin Umar, dia menyatakan, “Siapa saja di antara kalian akan melaksanakan shalat hendaklah dia menghadap dan mendekat kepada sutrahnya, agar syaitan tidak lewat dihadapannya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah. Sanadnya Shahih)
- Dari Abdullah bin Mas’ud, dia menuturkan, “Ada empat perbuatan yang dibenci: mengerjakan shalat tanpa menghadap sutrah …, mendengar adzan namun tidak menjawab seruannya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Al-Baihaqi. Perkataan ini Shahih)
- Dari Anas bin Malik, dia menuturkan, “Sungguh, aku meligat para sahabat Nabi bergegas menuju ke tiang-tiang (masjid) sebelum shalat Maghrib, sampai beliau keluar (dari rumahnya dan tiba di masjid).” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lainnya dijelaskan, “Mereka hendak mengerjakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib.” (HR. Bukhari) - Dari Nafi’, dia mengisahkan, “Dahulu, jika Ibnu Umar tidak mendapati tiang masjid untuk sutrahnya, dia meminta kepadaku, ‘(Berbaliklah) hadapkanlah punggungmu’.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang Shahih)
Dalam kesempatan lainnya, Nafi’ menegaskan, “IbnuUmar tidak pernah mengerjakan shalat tanpa sutrah.” (HR. Abdurrazzaq dengan sanad yang Dhaif namun kedudukannya diperkuat oleh hadits sebelumnya) - Dikisahkan bahwa Salamah bin Al-Akwa’ membuat tumpukan batu di tanah lapang, dan apabila mengerjakan shalat, dia pun menghadap kepadanya. (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















