Sebagaimana penjelasan pada materi sebelumnya, syahadat Laa Ilaaha Illallah memiliki dua rukun atau sesuatu yang harus ada pada waktu bersyahadat, yaitu:
1. An-Nafi artinya orang yang bersyahadat mampu membuang atau menafikan dan melepaskan semua yang dipertuhankan.
2. Al-Isbat yakni orang yang bersyahadat mampu menetapkan satu-satunya Ilah (Tuhan) yang benar, yakni hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah berhasil melakukan penafian (peniadaan)seluruh jenis Ilah-ilah yang bathil baik tuhan yang bernama Alihah, Andaadan, Arbaaban, maupun Thaghut.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ… (256)…
… Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah… (QS. Al-Baqarah[2]: 256)
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ (36)…
Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut… (QS. An-Nahl[16]: 36)
Faidah Ayat-ayat di Atas:
- Pada dua ayat di atas terdapat kata يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ (ingkar kepada Thaghut) dan وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ (dan jauhilah Thaghut). Berarti menghendaki persamaan bahwa orang yang bersyahadat mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar wajibnya membuang atau melepaskan semua bentuk Thaghut dan tuhan bathil yang serupa (Alihah, Andaadan, Arbaaban).
- Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membimbing para sahabat sampai mengantarkan menjadi KHAIRAH UMMAH (Ummat terbaik) membutuhkan waktu 23 tahun (46 Semester) dalam mengajarkan syahadat dan hidup berjuang dengan syahadat dan hidup mati dengan syahadat, mengorbankan segala yang dicintainya demi syahadat. Maka sukses syahadat rasulullah dengan para sahabatnya membutuhkan perjuangan yang cukup panjang. Nabi sebagai manusia terbaik sekaligus guru yang paling terbaik membimbing santri binaannya memaknai syahadatnya butuh perngorbanan waktu, tenaga, pikiran, harta, bahkan tidak sedikit nyawa demi tegaknya syahadat.
- Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membina para sahabat dalam berislam dengan terlebih dahulu membongkar akar kesyirikan yang dicintai oleh kaumnya seperti orang jahiliyah memiliki berbagai adat, kebiasaan, paham, sistem hidup yang sudah turun temurun bahkan mendarah daging lalu rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menebang pohon kesyirikan tersebut lalu menanam pohon yang baru berupa aqidah yang haq. Dan rupanya aqidah tauhid yang inilah yang mengubah hidup yang jahiliyah seperti Bilal bin Rabah, Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Sumayyah, dan sahabat-sahabat lainnya menjadi memiliki aqidah islamiyah. Sahabat-sahabat yang telah diisi dngan energi syahadat tersebut seperti menjadi manusia ajaib yang drastis berubah dari yang lemah menjadi kuat, dari yang hina menjadi mulia, jadi yang penakut menjadi pemberani. Itu semua terjadi berkat usaha yang tinggi rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melepaskan sumber-sumber kehinaan, ketakutan, pengecut, kemunafikan, menyembah harta, menyembah suara mayoritas menuju kekuatan yang dahsyat yakni hanya Allah yang menjadi tujuan tertinggi, hidup dan matinya hanya untuk Allah, seluruh perjuangannya hanya keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka sahabat-sahabat tersebut pun rela menerima siksaan, penderitaan, demi hidupnya syahadat mereka.
- Sukses syahadat rasulullah dengan para sahabat tidak lain karena mereka berhasil mengingkari atau menolak segala hukum, kemauan, kebiasaan hidup, peraturan, elemen-elemen yang tidak bersumber dari wahyu lalu digantikan dengan petunjuk, wahyu, syari’at dari Allah.
- Segala hal yang menentang dan yang menyalahi petunjuk Allah (Thaghut dan sebagainya) tidak akan pernah menguatkan sendi-sendi syahadat tetapi justru semua itu hanya melemahkan syahadat maka terus meneruslah membersihkan akar-akar kesyirikan bahkan tumbangkan pohonnya lalu gantilah dan tanamlah pohon yang baru yaitu pohon kalimatut thayyibah (Laa Ilaaha Illallah).
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















