16. Menangis Karena takut kepada Allah, Syahid di jalan Allah, Berjuang di jalan Allah, Melaksanakan ibadah fardhu kepada Allah.
لَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوعٍ فِي خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا الْأَثَرَانِ فَأَثَرٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِي فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ
“Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Allah kecuali dua tetas air dan dua bekas; tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas karena di jalan Allah dan bekas karena melaksanakan kewajiban Allah.” (HR. Tirmidzi dan dia menghasankannya)
17. Memuji Allah
التَّأَنِّي مِنَ اللهِ وَ الْعَجَلَةُ مِنَ الشَيْطَانِ وَمَا مِنْ أَحَدٍ أَكْثَرَ مَعَاذِيْرَ مِنَ اللهِ وَمَا مِنْ شَيْئٍ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنَ الْحَمْدِ
Perlahan-lahan itu dari Allah, sedang tergesa-gesa itu dari Allah. Tidak ada yang lebih menerima udzur selain Allah dan tidak ada yang lebih dicintai-Nya selain pujian. (HR. Abu Ya’la dengan sanad yang hasan)
18. Membaca QS. Al-Falaq
Dari Uqbah bin Amru, ia berujar: Saya berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, saya baca dari surah Yusuf dan surah Hud?” Beliau menjawab, “Wahai Uqbah, bacalah Qul a’udzu bi Rabbi falaq. Karena tidak ada bacaan surah yang lebi dicintai Allah dan lebih sampai di sisi-Nya selain surah ini. Jika engkau mampu untuk tidak melewatkannya, maka lakukanlah.” (HR. Al-Hakim, dishahihkan dan disepakati oleh adz-Dzahabi)
19. Mengerjakan shalat Isya dan Shubuh secara berjamaah
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا الصُّبْحَ فَقَالَ أَشَاهِدٌ فُلَانٌ قَالُوا لَا قَالَ أَشَاهِدٌ فُلَانٌ قَالُوا لَا قَالَ إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلَاتَيْنِ أَثْقَلُ الصَّلَوَاتِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ وَلَوْ تَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَيْتُمُوهُمَا وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الرُّكَبِ وَإِنَّ الصَّفَّ الْأَوَّلَ عَلَى مِثْلِ صَفِّ الْمَلَائِكَةِ وَلَوْ عَلِمْتُمْ مَا فَضِيلَتُهُ لَابْتَدَرْتُمُوهُ وَإِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
Dari Ubay bin Ka’ab dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakan shalat Shubuh bersama kami, lalu beliau bersabda: “Apakah si fulan hadir?” Mereka (para sahabat) menjawab; Tidak. Beliau bersabda: “Apakah si fulan hadir?” Para sahabat menjawab; Tidak. Beliau bersabda: “Dua shalat ini (Shubuh dan Isya) adalah shalat yang paling berat bagi orang orang munafik. Andaikata kalian mengetahui apa (keutamaan) yang ada pada keduanya, niscaya kalian akan menghadirinya sekalipun dengan merangkak, dan sesungguhnya shaf pertama adalah seperti shaf para malaikat. Seandainya kalian mengetahui keutamaan shaf pertama, niscaya kalian akan memperebutkannya. Sesungguhnya shalat seseorang yang berjamaah dengan satu orang, adalah lebih baik daripada shalat sendirian. Dan shalatnya bersama dua orang jamaah, adalah lebih baik daripada shalat bersama seorang jamaah. Semakin banyak jama’ahnya, maka semakin dicintai oleh Allah Ta’ala.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad, Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah. Dishahihkan oleh Yahya bin Ma’in, Ali bin Al-Madini, Muhammad bin Yahya adz-Dzuhaili)
20. Memuji Allah, Menjauhi kekejian, mengikuti petunjuk kitab dan Rasul.
لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ وَلَيْسَ أَحَدٌ أَغْيَرَ مِنْ اللَّهِ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ وَلَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنْ اللَّهِ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ أَنْزَلَ الْكِتَابَ وَأَرْسَلَ الرُّسُلَ
‘Tidak ada seorang pun di dunia ini yang melebihi kesukaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap pujian. Oleh karena itu, dia memuji diri-Nya sendiri. Tidak ada seorang pun yang melebihi kecemburuan Allah. Oleh karena itu, dia mengharamkan keburukan. Dan tidak ada seorang pun yang melebihi kesukaan Allah Azza wa Jalla terhadap pembebasan dosa. Oleh karena itu, Dia menurunkan kitab suci dan mengutus para rasul.'” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad dan Ad-Daarimi)
21. Beramal shalih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidak ada hari, amal shalih padanya yang lebih Allah cintai daripada sepuluh hari (Dzul Hijjah).” Mereka berkata; wahai Rasulullah, tidak pula berjihad di jalan Allah? Beliau berkata: “Tidak pula berjihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali membawa sesuatupun.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, dan Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















