Bahwasanya seluruh kitab samawi telah berbicara tentang keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala hukum yang termuat di dalamnya mengandung kemaslahatan-kemaslahatan bagi para makhluk. Yang demikian ini menunjukkan bahwa bahwa kitab-kitab itu datang dari sisi Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Mengetahui kebaikan-kebaikan bagi para hamba. Seluruh peristiwa yang diberitakan-Nya dan dipersaksikan kebenarannya oleh realita kehidupan manusia juga menunjukkan bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa saja yang telah dikabarkan-Nya.
Di antara berbagai kitab samawi tersebut sebagai sumber syariat maka al-Qur’anlah yang paling jelas memperkenalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita melalui berbagai penjelasan-Nya termasuk melalui alam semesta.
Al-Qur’an membawa kita dalam sejumlah perjalanan mencari ufuk-ufuk langit dan mengajak berjalan mengelilingi penjuru bumi, lantas berhenti di dekat taman-taman bunga, kemudian naik menuju bintang-bintang pada garis edarnya. Pada semua itu, al-Qur’an membuka mata dan akal kita dengan memperlihatkan bagaimana qudrat (kekeuasaan) Allah dan takdir-Nya berlaku bagi setiap makhluk hidup; menunjukkan hikmah di balik penciptaan makhluk, diadakannya (dari ketiadaan), serta dibangkitkannya kembali kelak; dan juga menerangkan besarnya nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada diri kita, kepada jiwa kita, dan kepada alam di sekitar kita. Ya, ini memang pembicaraan panjang dalam Kitabullah, yang niscaya memperlihatkan kepada kita surah panjang maupun surah pendek. Pembicaraan menarik yang membuat jiwa tertunduk terdiam, pendengaran menjadi tajam, serta perasaan dan indra kita terjaga. Banyak sudah tulisan yang kita baca ihwal pencapaian ilmu pengetahuan dan tentang keberhasilan para ilmuwan di berbagai bidang kehidupan, dan bahwa penemuan mereka menjelaskan rahasia makhluk, bagaimana ciptaan-Nya dapat menunjukkan keagungan Sang Pencipta. Namun apa yang kita temukan di semua tulisan itu sama sekali tidak seperti apa yang termaktub dalam al-Qur’an baik dari sisi keindahan penggambarannya, kendati inti ilmunya, ransangannya terhadap perasaan, bagusnya penjelasannya maupun rincian kesimpulannya.
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ (43)
Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu Hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (QS. An-Nuur[24]: 43)
Itulah al-Qur’an merupakan sumber syariat telah berbicara kepada kita untuk menyentuh hati kita, membujuk lebih dalam untuk berfikir lebih jernih, membuka mata lebar-lebar untuk membongkar penolakan dan menghanguskan keingkaran serta menumbuhkan kesadaran untuk bisa yakin bahwa ada kehidupan, ada kematian seharusnya kita jujur dengan fitrah yang lurus, hati yang suci, akal yang jernih untuk sampai pada satu kesimpualn bahwa aku hidup bukan kebetulan tapi hidup untuk menerima tanggung jawab.
Akhirnya kita sampaipada satu kesimpulan bahwa TUHAN ITU ADA. Dengan bukti-bukti fitrah tidak bisa menolaknya oleh manusia siapapun, melalui bukti logika yang sehatpun tidak bisa mengingkari adanya tuhan serta panca indra kita dapat melihatnya, mendengarnya bahkan merasakannya pasti ada yang namanya Tuhan. LALU TUHAN MANA YANG KITA YAKINI ITU??? IKUTI PENJELASAN SELANJUTNYA “MENCARI TUHAN YANG BENAR”
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















