1. Ia mencuci anggota tubuh yang mampu dicucinya, lalu bertayammum untuk sisa anggota tubuh lainnya. (Madzhab Imam Ahmad, satu dari dua pendapat asy-Syafi’i, Ibnu Hazm)
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ … (16)
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu… (QS. Ath-Thaghabun[64]: 16)
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian. (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)
2. Ia langsung bertayammum. (Abu Hanifah, Malik, salah satu pendapat Syafi’iyah, dan dipilih oleh segolongan ulama salaf)
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا… (6)…
… Dan jika kamu junub Maka mandilah,… (QS. Al-Maidah[5]: 6)
Berdasarkan ayat ini, tidak boleh digabungkan antara bersuci dengan air dan bertayammum. Kemudian dalam ayat ini mewajibkan mandi bagi orang yang junub dan jika tidak menemukan air maka ia bersuci dengan bertayammum.
Kitab Shahih Fiqih Sunnah Karya Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















