1. Dzikrullah dan membaca al-Qur’an
Wanita haid dan junub boleh berdzikir dan membaca al-Qur’an, menurut pendapat yang rajih. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, serta pendapat yang masyhur dari madzhab asy-Syafi’i, dan Ahmad. Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (I/77, 78) berkata, “Membaca al-Qur’an, sujud ketika membacanya (yakni ketika membaca ayat-ayat sajadah), menyentuh mushaf, dan dzikrullah adalah perbuatan baik dan dianjurkan untuk dilakukan serta dibalas dengan pahala bagi yang melakukannya. Barangsiapa yang mengklaim bahwa hal itu dilarang dalam beberapa kondisi, maka dia harus mendatangkan dalilnya.”
2. Sujud ketika mendengar ayat sajadah
Tidak dalil yang melarang wanita haid bersujud ketika mendengar ayat sajadah. Sujud di sini bukanlahsujud shalat, dan tidak disyariatkan suci baginya.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ بِالنَّجْمِ وَسَجَدَ مَعَهُ الْمُسْلِمُونَ وَالْمُشْرِكُونَ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ
Dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sujud tilawah ketika membaca surah An-Najm. Begitu juga ikut sujud bersama Beliau dari kalangan Kaum Muslimin, Musyrikin, bangsa jin dan manusia. (HR. Bukhari, Abdurrazzaq)
3. Menyentuh mushaf (lihat materi sebelumnya!)
Tidak ditemukan dalil yang tegas yang melarang seorang wanita haid menyentuh mushaf, walaupun banyak yang berpendapat bahwa wanita haid tidak boleh menyentuh mushaf.
4. Suami membaca al-Qur’an di pangkuan istrinya yang sedang haid
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَّكِئُ فِي حَجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyandarkan badannya di pangkuanku membaca Al Qur’an, padahal saat itu aku sedang haid. (HR. Bukhari, Muslim dari Aisyah)
5. Menghadiri shalat Idul Fitri dan Idul Adha
يَخْرُجُ الْعَوَاتِقُ وَذَوَاتُ الْخُدُورِ أَوْ الْعَوَاتِقُ ذَوَاتُ الْخُدُورِ وَالْحُيَّضُ وَلْيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُؤْمِنِينَ وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ الْمُصَلَّى
Hendaklah para gadis remaja dan wanita-wanita yang dipingit di rumah, dan wanita yang sedang haid ikut menyaksikan kebaikan dan mendo’akan Kaum Muslimin, dan wanita-wanita haid menjauh dari tempat shalat. (HR. Bukhari dan Nusaiba binti Ka’ab)
6. Masuk ke dalam masjid (lihat materi sebelumnya!)
Belum ditemukan dalil yang shahih lagi jelas yang melarang wanita haid masuk ke dalam masjid. Sedangkan hukum asalnya adalah boleh, hingga ditemukan adanya larangan.
7. Suami makan dan minum dengan istrinya yang sedang haid
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَتَعَرَّقُ الْعَظْمَ وَأَنَا حَائِضٌ فَيَأْخُذُهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ فَمَهُ حَيْثُ كَانَ فَمِي وَأَشْرَبُ مِنْ الْإِنَاءِ فَيَأْخُذُهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ فَمَهُ حَيْثُ كَانَ فَمِي وَأَنَا حَائِضٌ
Dari Aisyah, ia berkata; “Aku menggigit tulang sedangkan aku dalam keadaan haid, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambilnya dan meletakkan mulutnya persis dimana mulutku aku letakkan. Dan aku minum dengan cangkir, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambilnya dan meletakkan mulutnya persis dimana mulutku aku letakkan, padahal aku dalam keadaan haid.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah)
8. Wanita yang haid berhidmat pada suaminya, seperti mencuci kepalanya, menyisir rambut dan merapikannya.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أُرَجِّلُ رَأْسَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا حَائِضٌ
Dari ‘Aisyah berkata, “Aku pernah menyisir rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara saat itu aku sedang haid.” (HR. Bukhari, Muslim)
9. Wanita haid tidur bersama suaminya di dalam satu selimut
أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ قَالَتْ حِضْتُ وَأَنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمِيلَةِ فَانْسَلَلْتُ فَخَرَجْتُ مِنْهَا فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حِيضَتِي فَلَبِسْتُهَا فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنُفِسْتِ قُلْتُ نَعَمْ فَدَعَانِي فَأَدْخَلَنِي مَعَهُ فِي الْخَمِيلَةِ
Bahwa Ummu Salamah berkata, “Saat aku berada dalam satu selimut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku mengeluarkan darah haid, kemudian pelan-pelan aku keluar dari selimut mengambil pakaian (khusus untuk haid) dan mengenakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku: “Apakah kamu sedang haid?” Aku jawab, “Ya.” Beliau lalu memanggil dan mengajakku masuk ke dalam selimut.” (HR. Bukhari, Muslim)
Diringkas dari Kitab Shahih Fiqih Sunnah Karya Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















