1. Tidak menjawab adzan
إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ
Apabila kalian mendengar mu’adzdzin (mengumandangkan adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan. (HR. Bukhari, Muslim dari Abdullah bin Amru)
2. Perkataan: اللهُ أَكْبَرُ وَالْعِزَّةُ لِلَّهِ (Allah Mahabesar, keagungan hanya milik Allah)
Asy-Syuqairi, “Perkataan ketika mendengar takbir adzan, Allahu a’zham wal ‘izzatu lillah atau Allahu Akbar ‘ala kulli man zhalamana (Allah Mahabesar atas orang yang menzhalimi kita) atau Allahu akbar ‘ala auladil-haram (Allah Mahabesar atas anak-anak tanah Haram). Semua perkataan tersebut adalah bid’ah dan kebodohan. Sunnahnya kita jawab sebagaimana yang diucapkan muadzdzin, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.”
3. Mengusap dua mata ketika mendengar lafal syahadat dalam bacaan adzan
Dalam kitab Al-Maqashid Al-Hasanah [384] setelah menyebut sebuah riwayat, Imam As-Sakhawi berkata, “Tidak ada hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang shahih yang menjelaskan hal ini.”
4. Mendahului muadzdzin
Termasuk kesalahan orang ketika mendengar adzan adalah mendahului muadzdzin dalam menjawab adzan. Hal ini sering terjadi ketika muadzdzin mengumandangkan takbir yang terakhir “Allahu akbar, Allahu akbar”, kebanyakan orang [kecuali yang mendapat rahmat Rabb] akan langsung mnejawab “La ilaha illallah”. Dengan demikian mereka telah mendahului mudzdzin. Dan ini melanggar sabda Nabi shallallahu alaihi wa salam
إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ
Apabila kalian mendengar mu’adzdzin (mengumandangkan adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan. (HR. Bukhari, Muslim dari Abdullah bin Amru)
5. Tidak membaca shalawat dan doa setelah selesai adzan
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian mendengar mu’adzdzin (mengumandangkan adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah atasku, karena orang yang bershalawat atasku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya dengannya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah wasilah untukku, karena ia adalah suatu tempat di surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan saya berharap agar saya menjadi hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafa’at halal untuknya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Tirmidzi, Ahmad)
6. Menambah beberapa kalimat doa setelah adzan
Banyak orang menyisipkan doa “Wa ‘ati sayyidanal muhammadanil washilata wal-fadhillata wad-darajatal aliyatar rafi’ah wab atshullahumma maqaman mahmudanilladzi wa adtahu. Innaka la tukhliful mi’ad ya arhamar rahimin.”
Kita temukan hal tersebut dalam doa mereka. Mereka menambah dan menciptakan tambahan-tambahan yang tidak diturnkan oleh Allah serta tidak dilafalkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
7. Perkataan: اَللَّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلِ صَلَاةِ … (Ya Alah, berikanlah sebaik-baik rahmat)
Doa tersebut banyak tersebar di pedesaan dan dilafalkan banyak orang, bahkan mereka mencela orang yang tidak mengucapkannya. Mereka mengulang-ulangnya di masjid secara bersama-sama setelah adzan dan iqamah tanpa menghiraukan orang shalat dan beribadah sunnah.
8. Mengumandangkan rekaman adzan
Hal ini adalah sesuatu yang baru. Hal ini biasa dilakukan di masjid-masjid kecil di pedesaan, rumah sakit, sekolah-sekolah, dan lain-lain. Hal tersebut melanggar sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam
إِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ
Jika waktu shalat telah tiba, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaklah yang mengimami shalat kalian adalah yang paling tua di antara kalian. (HR. Bukhari, Muslim dari Malik bin Al-Huwairits)
9. Menjawab adzan dari dalam toilet
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















