1. Ucapan Hayya ‘Ala Khairil Amal setelah mengucap Hayya ‘Alash-Shalah dan Hayya ‘Alal Falah
Al-hai’alatain yaitu hayya ‘alash-shalah dan hayya ‘alal falah
Termasuk kesalahan yang dilakukan para muadzdzin mengucapkan hayya ‘ala khairil amal, hayya ‘ala khairil amal setelah mengucap hayya ‘alash-shalah hayya ‘alal falah.
Tambahan ini termasuk bid’ah yang diada-adakan dan bukan termasuk ketetapan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam pengajaran beliau tentang adzan.
Imam AL-Baihaqi rahimahullah berkata: lafazh ini [hayya ‘ala khairil amal] tidak tsabit dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika mengajari Bilal dan Abu Mahdzurah. Kami juga membenci tambahan ini. Wabillahi taufiq. (As-Sunan al-Kubra al-Baihaqi [1/425])
2. Tidak menolehkan kepala ketika mengucap Hayya ‘Alash Shalah- Hayya ‘Alal Falah
Sunnah ini sudah banyak ditinggalkan para muadzdzin, lantaran anggapan mereka yang menilai bahwa hal ini bukan Sunnah. Padahal, ada dalil yang mengukuhkan bahwa perbuatan ini Sunnah, diantaranya:
عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ أَنَّهُ رَأَى بِلَالًا يُؤَذِّنُ فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هَهُنَا وَهَهُنَا بِالْأَذَانِ
Dari Abu Juhaifah bahwa dia melihat Bilal mengumandangkan adzan. Aku lalu memperhatikan mulutnya bergerak ke sana dan ke sini saat mengumandangkan adzan.” (Muttafaq Alaihi)
Imam Asy-Syafi’i, Ats-Tsauri dan Al-Auza’i berkata, disunnahkan menoleh dengan lehernya ke kanan dan ke kiri tanpa berpaling dari kiblat dada dan kakinya. Juga tidak berputar meskipun muadzdzin berada di atas tanah atau selainnya.
Dalam hal berpaling ada beberapa cara, yang paling shahih dengan menoleh ke kanan ketika mengucap hayya ‘alas-shalah, hayya ‘alash-shalah. Kemudian menoleh ke kiri ketika mengucapkan hayya ‘alal falah, hayya ‘alal falah. (Ad-Din Al-Khalish [2/62])
3. Tidak menghadap kiblat
Sebaian muadzdzin tidak menghadap kiblat ketika adzan, padahal ini merupakan kesalahan, karena yang Sunnah ialah dengan menghadap kiblat ketika adzan dan iqamah.
4. Menghilangkan huruf Ha dari lafazh Ash-Shalah, dan Ha’ dari lafazh Al-Falah
Sebagian muadzdzin mengucapkan Hayya ‘alash-shala tanpa huruf ha, demikian pula mengucapkan hayya ‘alal fala tanpa ha’.
Ini semua buah dari kebodohan terhadap pentingnya melazimi lafazh-lafazh adzan secara utuh.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















