A. Doa shalat dhuha yang sangat populer, tapi tidak ada asal usulnya
اَللّهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَائُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللّهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَاءِ فَاَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَاَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسِّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ اَتِنِى مَااَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu,keagungan adalah keagungan-Mu, kebagusan adalah kebagusan-Mu,kekuatan adalah kekuatan-Mu,kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, dan penjagaan adalah penjagaan-Mu. Ya Allah, apabila rizkiku di atas langit maka turunkanlah, bila di dalam bumi maka keluarkanlah, bila sulit maka mudahkanlah, bila haram maka sucikanlah,dan bila jauh maka dekatkanlah dengan berkat waktu dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepadaku segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang sholeh.”
Komentar:
1. Doa di atas terdapat pada kitab Syarhul Minhaj (7:293) Asy-Syarwani dan I’anatut Thalibiin (1:295) karya Abu Bakr Ad-Dimyathi.
2. Sekalipun terdapat pada kitab-kitab fiqih namun tak satupun yang menyandarkan pada kitab-kitab hadits. (Syaikh Salim Al-Hilali)
3. Doa di atas majhul (tidak dikenal/tidak ada asal-usulnya dari hadits).
4. Meskipun begitu, boleh berdoa dengan lafazh bukan dari Nabi akan tetapi tidak boleh menyandarkan dari Nabi.
5. Setiap ibadah dalam Islam bersifat tauqifiyah artinya menunggu dalil, hukum assal ibadah adalah haram, kecuali harus berdalil
B. Doa shalat dhuha yang shahih
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ
Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang) sampai beliau membacanya seratus kali.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dari Aisyah, no. 619. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih.)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















