1. Jika ia berniat bermukim lebih dari empat hari, maka ia tidak boleh mengqashar. Ini adalah madzhab Jumhur: Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Hanya saja Malikiyah dan Syafi’iyah mengatakan, empat hari selain hari datang dan pergi. Hanabilah membatasinya dengan dua puluh kali shalat. (Ad-Dasuqi [I/364], al-Majmu’ [IV/361], al-Hawi [II/372], al-Mughni [II/132], dan Kasyaf al-Qanna [I/330])
Mereka berdalil dengan dalil-dalil berikut ini:
a. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ke Mekkah pada waktu Shubuh, tanggal empat Dzulhijjah. Beliau bermukim di sana tanggal empat, lima, enam, dan tujuh. Beliau shalat Shubuh pada hari yang kedua kemudian keluar ke Mina. Beliau mengqashar shalat pada hari-hari tersebut, dan beliau berniat untuk bermukim di sana. (Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari yang semakna dengannya [1564], Muslim [1240] dari Ibnu Abbas dan [1218] dari Jabir)
b. Hadits Al Alabin Al Hadlrami
قَالَ الْعَلَاءَ بْنَ الْحَضْرَمِيِّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقِيمُ الْمُهَاجِرُ بِمَكَّةَ بَعْدَ قَضَاءِ نُسُكِهِ ثَلَاثًا
Al Ala bin Al Hadlrami berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang muhajir hendaklah bermukim di Makkah selama tiga hari setelah menunaikan Manasik hajinya.” (HR. Muslim [1352])
c. Riwayat dari Umar bin al-Khaththab bahwa ia menetapkan bagi orang-orang Yahudi, Nasrani dan Majusi berada di Madinah selama tiga hari untuk mengumpulkan bekal dan menunaikan hajat mereka. Mereka tidak boleh bermukim lebih dari tiga hari. (Perawi sanadnya tsiqah, diriwayakan oleh al-Baihaqi [III/147, IX/209] dengan rijal hadit yang tsiqah, kecuali ada perselisihan tentang penyimakan langsung Yahya bin Bakir dari Malik)
Menurut mereka, Atsar ini menunjukkan bahwa tiga hari adalah batasan safar, dan yang ebih dari itu adalah batasan bermukim.
d. Bahwa musafir bertamu selama tiga hari. Jika lebih, maka ia terhitung sebagai orang yang bermukim. Pendapat ini dijawab, hal itu tidak menunjukkan batas minimal masa bermukim, sebagaimana sudah jelas.
2. Jika dia berminat bermukim lima belas hari, maka ia tidak boleh mengqashar. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, ats-Tsauri, dan al-Muzani. (Al-Bada’i [I/97-98], al-Hidayah [I/81], dan al-Majmu’ [IV/364])
Mereka berargumen dengan dalil-dalil sebagai berikut:
a. Hadits Anas
سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ قُلْتُ أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ شَيْئًا قَالَ أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا
Aku mendengar Anas radliallahu ‘anhu berkata: “Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kota Madinah menuju kota Makkah, selama kepergian itu Beliau melaksanakan shalat dua raka’at dua raka’at hingga kami kembali ke Madinah. Aku tanyakan: ‘Berapa lama kalian menetap di Makkah?” Dia menjawab: “Kami menetap disana selama sepuluh hari”. (HR. Bukhari [1081], Muslim [693])
b. Hadits Ibnu Abbas
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ عَامَ الْفَتْحِ خَمْسَ عَشْرَةَ يَقْصُرُ الصَّلَاةَ
Dari Ibnu Abbas dia berkata; “Pada hari penaklukan kota Makkah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermukim di sana selama lima belas hari, beliau selalu mengqashar shalat.” (HR. Abu Dawud [1231], Ibnu Majah [1076]. Dhaif)
c. Hadits Ibnu Abbas dan Ibnu Umar
وَرُوِي عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَقَامَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا أَتَمَّ الصَّلَاةَ
Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang menetap selama lima belas hari, maka ia harus menyempurnakan shalatnya.” (HR. At-Tirmidzi [548] tanpa sanad)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















