SEBAB-SEBAB MUNCULNYA TABARRUK YANG DILARANG
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ (9)
(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumahr[39]: 9)
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا (171)
Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari Ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (QS. An-Nisa[4]: 171)
Faidah-faidah Ayat-ayat di Atas:
- Kurangnya ilmu terhada ajaran Islam.
a. Maka hal ini tidak dapat dibantah tentang pentingnya ilmu karena atas dasar itulah aturan agama diamalkan.
b. Ketidak tahuan terhadap ajaran agama dan hukum-hukumnya merupakan bencana bagi seorang muslim karena menghalangi dirinya untuk mendapat petunjuk dan dapat mengantarkan dirinya kepada kesesatan.
c. Kebodohan adalah salah satu sebab maraknya bentuk mencari berkah yang dilarang yang menjangkiti sebagian kaum muslimin.
d. Penyebab diamnya ulamaahlus sunnah untuk menerangkan yang haq dan menyampaikan syariat hukum-hukum agama serta mengingkari bid’ah-bid’ah yang hobby mencari berkah yang tidak berdasar.
e. Suburnya kelompok rafidhah dan kaum shufi yang jahil terhadap agama sehingga berkembang kesesatan mencari berkah.
f. Kebodohan dan kerusakan yang dipelopori oleh kaum taklid (fanatik buta) kepada pendahulu-pendahulu yang tidak menekuni ilmu. - Adanya sikap ghuluw (berlebihan) terhadap orang shaleh.
a. Sikap al-ghuluw yang berlebihan ini sehingga marak mencari tempat-tempat berkah terutama kuburan orang shaleh.
b. Memuliakan dan mencintai orang shaleh termasuk hal yang mulia tetapi ini hanya diizinkan pada saat mereka hidup setelah mereka meninggal cara memuliakannya tidak justru bersikap ghuluw kepada mereka.
c. Nabi shallallahu alaihi wa sallam sangat melarang sikap ghuluw yakni memuji orang dengan melampaui batas. - Menyerupai orang kafir.
a. Agama Islam memiliki ciri khas tersendiri baik aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalat maka tidak perlu meniru orang-orang kafir.
b. Meniru orang-orang kafir termasuk dapat membatalkan keimanan paling tidak merusak.
c. Memuja Nabi dan orang shaleh serta kuburunnya bahagian dari bentuk menyerupai Yahudi dan Nasharah karena orang Yahudi dan Nasharah dilaknat oleh Allah karena mereka menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid. (Diriwayatkan dari Aisyah) - Memuliakan peninggalan-peninggalan.
a. Salah satu sebab maraknya tabarruk yang dilarang karena memuliakan suatu tempat (peninggalan-peninggalan ) yang tidak disyariatkan.
b. Mayoritaspeninggalan yang dijadikan saran mencari berkah adalah tempat peninggalan para Nabi dan orang-orang shaleh yang disendarikan kepada mereka.
c. Tidak dapat diragukan denagna memuliakan peninggalan-peninggalan tersebut tidak lainkarena didorong oleh niat bertabarruk kepada mereka namun bukan berarti kita lantas menyepelekan dan menghina peninggalan-peninggalan orang shaleh tersebut. Sekali lagi bukan seperti itu.
Sumber:
Kitab At-Tabarruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu Karya Dr. Nashir bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Junda’i
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















