MA NUSIA SANGAT BERVARIASI KETIKA BERHADAPAN DENGAN SEBAB-SEBAB, SEHINGGA TERBAGI MENJADI TIGA GOLONGAN
1. Bersandar Secara Total kepada Sebab-sebab.
Sebab-sebab menurut mereka adalah sebab dengan adanya dzatnya sendiri. Sebab-sebab itu adalah sesuatu yang mengadakan dirinya sendiri dan yang mendatangkan bahaya dan manfaat secara bebas. Yang demikian ini adalah pandangan kalangan materialisdan orang-orang yang hanya mengandalkan kekuatan akal. Kelompok ini termasuk terjerumus ke dalam kesyirikan karena menyakini ada dzat yang menetapkan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ini jelas bertentangan dengan syariat. Pandangan ini bertentangan dengan dalil dar fakta api yang sifatnya dan menyebabkan terbakar tetapi justru api bersifat menjadi dingin berarti batallah sebab semata.
Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, (QS. Al-Anbiya’[21]: 69)
2. Berpaling dan Mengingkari Sebab-sebab Secara Total.
Ini adalah pemahaman kalangan sufi terhadap TAWAKKAL. Mereka tidak berpendapat keharusan untuk mewujudkan TAWAKKAL, melainkan dengan cara berpaling secara total dari sebab-sebab. Menurut mereka, menoleh kepada sebab-sebab akan menafikan TAWAKKAL. Kelompok ini termasuk berlebih-lebihan dalam memahami TAWAKKAL dan pandangan mereka bertentangan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: … Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqarah[2]: 197)
Bekal dalam ayat di atas berarti melakukan sebab meskipun perjalanan menuju rumah Allah (Baitullah).
3. Melakukan Sebab-sebab Namun Tidak Bersandar Secara Total kepada Sebab.
Ini adalah kelompok yang menggabungkan unsur kebenaran dalam setiap kelompok yang lain. Kelompok ini berkeyakinan bahwa sebab-sebab memiliki pengaruh terhadap musabab-musababnya akan tetapi tidak dengan dzatnya sendiri melainkan dengan apa yang dititipkan oleh Allah padanya berupa kekuatan yang semuanya di bawah kehendak dan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kelompok inilah yang paling selamat kaitannya sebab-sebab dengan TAWAKKAL. Pemahaman inilah yang memelihara tauhid.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















