- Mendahulukan ibadah atas permohonan pertolongan dalam surat al-Fatihah adalah termasuk dalam bab mengutamakan berbagai tujuan daripada berbagai sarana.
- Kalimat إِيَّاكَ نَعْبُدُ terkait dengan uluhiyah dan nama-Nya اللَّه, dan إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ terkait dengan rububiyah-Nya dan nama-Nya الرَّبُ, maka إِيَّاكَ نَعْبُدُ didahulukan daripada إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ sebagaimana اللَّه didahulukan atas الرَّبُ di awal surat itu.
- Kalimat إِيَّاكَ نَعْبُدُ adalah bagian Rabb yang merupakan setengah bagian pertama yang berupa pujian untuk Allah Ta’ala karena memang itu adalah hanya sesuai untuk-Nya.
- Kalimat إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ adalah bagian untuk hamba. Jadi merupakan setengah yang memang menjadi haknya, yaitu اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ hingga akhir surat ini.
- Ibadah mutlah mencakup permohonan pertolongan dan bukan sebaliknya. Maka, setiap hamba penyembah Allah dengan ubudiyah yang sempurna seraya meminta pertolongan kepada Allah dengan ibadah itu dan bukan sebaliknya, karena para pemilik tujuan dan syahwat kadang-kadang meminta pertolongan dengannya atas syahwatnya, maka ibadahnya menjadi lebih sempurna dan utuh. Oleh sebab itu, ini menjadi bagian Rabb.
- Permohonan pertolongan adalah bagian dari ibadah dan bukan sebaliknya.
- Permohonan pertolongan adalah permohonan kepada-Nya, sedangkan ibadah adalah permohonan karena-Nya.
- Ibadah tidak akan muncul kecuali bagi orang yang mukhlis, sedangkan permohonan pertolongan bisa muncul dari orang mukhlis atau tidak mukhlis.
- Ibadah adalah hak-Nya yang diwajibkan atas diri hamba, sedangkan permohonan pertolongan adalah permohonan akan perlindungan atas ibadah.
- Kalimat إِيَّاكَ نَعْبُدُ adalah untuk-Nya dan إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ adalah pada-Nya. Milik-Nya harus didahulukan atas pada-Nya. Karena milik-Nya berkaitan dengan cinta dan keridhaan sedangkan pada-Nya berkaitan dengan kehendak-Nya.
SIMPULAN:
TAWAKKAL adalah dasar segala mawam iman, ihsan, dan semua amal Islam. Dan kedudulannya terhadap semua itu laksana kedudukan badan bagi kepala. Maka sebagaimana sebua kepala tidak akan tegak melainkan di atas badan, maka demikian pula iman dan semua maqam dan amal tidak akan tegak melainkan di atas TAWAKKAL.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















