1. Firman Allah الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”, bahwa Allah disifati sebagai Rabb semesta alam , seperti pemberian alasan tentang ketetapan uluhiyah bagi-Nya. Dia Ilah karena Dia Rabb semesta alam. Firman-Nya yang lain:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21)
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah[2]: 21)
2. Yang diesakan dalam penciptaan ialah yang berhak diibadahi. Sebab suatu kebodohan jika engkau menjadikan makhluk yang baru dan fana sebagai Ilah yang anda sembah, yang pada hakikatnya tidak mendatangkan manfaat apapun bagimu, tidak mampu mengadakan, menyiapkan dan mengulurkan. Dan diantara kebodohan pula sekiranya engkau menghampiri kuburan seseorang yang tinggal tulang belulang, lalu engkau berdoa dan menyembahnya, padahal dia pun tidak mampu mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat dari dirinya sendiri. Maka bagaimana mungkin dia berkuasa melakukan hal yang sama bagi orang lain?
3. Banyak manusia yang kufur dan ingkar dalam hal tauhid ini. Karena itulah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka. Firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ (25)
Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. (QS. Al-Anbiya’[21]: 25)
Meskipun demikian, orang-orang yang mengikuti para rasul-Nya hanya sedikit. Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
Aku lalu melihat seorang nabi yang bersamanya sekumpulan manusia, ada juga nabi yang bersama dengan satu atau dua orang lelaki saja, dan seorang nabi tanpa seorang pengikut pun. (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)
4. Yang sangat engherankan bahwasanya banyak penulis ilmu tauhid dari kalangan muta’akhirin yang memfokuskan pada tauhid rububiyah. Seakan-akan mereka sedang berbicara dengan orang-orang yang mengingkari wujud Rabb (meskipun memang ada yang mengingkari-Nya). Tapi betapa banyak orang-orang Muslim yang terjerumus di dalam syirik ibadah.
5. Karena itu harus ada perhatian yang lebih terfokus kepada jenis tauhid ini (uluhiyah), agar kita dapat mengeluarkan orang-orang Muslim yang mengatakan bahwa mereka orang-orang Muslim kepada tauhid ini, padahal mereka itu orang-orang musyrik, sementara mereka tidak mengetahuinya.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















