1. Meletakkan kedua tangan pada an-Nahr, ann-Nahr adalah anggota badan di atas dada di bawah leher. (Tidak ada ulama yang menguatkan)
Dalil yang dipakai oleh pendapat ini adalah atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang tafsir firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرَ
“Maka dirikanlah shalat dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Beliau berkata (manafsirkan ayat di atas)
وَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الثِّمَالِ فِى الصَّلَاةِ عِنْدَ النَّحْرِ
“Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat pada an-Nahr.” (HR. Al-Baihaqy)
Riwayat ini lemah karena ada Ruhbin al-Masayyab al-Kalbi al-Bashri sering membawa hadits palsu.
2. Meletakkan kedua tangan di atas dada. (Imam Asy-Syafi’i pada salah satu riwayat, Ishaq bin Rahawaih, Ibnu Qayyim Al-Jauzy, Asy-Syaukani, dan dikuatkan oleh Syaikh Al-Albany)
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ
“Saya shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan beliau meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya di atas dadanya” (HR. Ibnu Khuzaimah dari Wa’il bin Hujr, perawinya semuanya tsiqah kecuali Mu’ammal bin Isma’il tetapi dikuatkan oleh hadits yang lain)
عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ هُلْبٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْصَرِفُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ وَرَأَيْتُهُ قَالَ يَضَعُ هَذِهِ عَلَى صَدْرِهِ وَصَفَّ يَحْيَى الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فَوْقَ الْمِفْصَلِ
“Dari Qabishah bin Halb dari ayahnya, ia berkata; Saya melihat Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menoleh ke kanan dan kekiri, dan saya melihatnya meletakkan tangan diatas dadanya. Dan Yahya meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya dibagian atas persendian.” (HR. Ahmad)
عَنْ طَاوُسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدُّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ
Dari Thawus dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan kanannya diatas tangan kiri, kemudian menarik keduanya diatas dada ketika shalat.” (HR. Abu Dawud)
3. Antara dada dan pusar (lambung/ perut). (Madzhab Malik pada sebuah riwayat, Asy-Syafi’i dan Ahmad, Imam An-Nawaw, Sa’id bin Jubair, Daud Azh-Zhohiry)
4. Di atas pusar. (Imam Ahmad dalam satu riwayat di nukil dari Ali bin Abi Thalib dan Sa’id bin Jubair)
5. Di bawah pusar. (Madzhab Al-Hanafiyah bagi laki-laki, Asy-Syafi’i dalam satu riwayat, Ahmad, Ats-Tsauri dan Ishak)
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّ مِنْ السُّنَّةِ فِي الصَّلَاةِ وَضْعُ الْأَكُفِّ عَلَى الْأَكُفِّ تَحْتَ السُّرَّةِ
Dari Ali Radliallah ‘anhu, dia berkata; “Termasuk dari sunnah dalam shalat meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan lain di bawah pusar.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Abi Syaibah)
6. Bebas diletakkan di mana saja; di atas pusar, di bawahnya atau di atas dada. (Pendapat Ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan setelahnya, Imam Ahmad, Ibnu Mundzir, Ibnu Qayyim, Imam Malik, Syaikh Muqbil bin Hady al-Wadi’iy)
7. Tidak meletakkan tangan tapi meluruskan tangan ke bawah. (Sebagian dari madzhab Malikiyah)
Semua dalil-dalil yang menyatakan meletakkan tangan memiliki cacat.
CATATAN: Pendapat yang paling terkuat dari tujuh pendapat di atas adalah pendapat nomor 2 karena didukung oleh dali-dalil yang saling menguatkan satu sama lain.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















