Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى (13) إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (14)
Dan aku telah memilih kamu (Nabi Musa), Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku. (QS. Thahaa[20]: 13-14)
Faidah-faidah ayat di Atas:
- Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepada Musa alaihis salam untuk menjaga susunan ini (ilmu kemudian amal). Dia berfirman: “Tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku” mengisyaratkan adalah ilmu pokok, sedangkan firman-Nya “Maka sembahlah aku” mengisyaratkan akan ilmu cabang.*
- Ilmu yang pertama Allah sampaikan melalui wahyu-Nya yaitu memperkenalkan diri-Nya yakni “Aku adalah Allah” yang menunjukkan wajibnya seorang hamba mengetahui siapa yang berhak untuk diibadahi lalu kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-Nya dengan kalimat “Maka sembahlah Aku” maka ini menunjukkan sebelum sibuk beribadah milikilah ilmu ibadah yaitu ilmu Tauhid. (Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Manan — Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)
- Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan melakukan ibadah shalat menempati pada tahapan yang kedua yang didahului dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala memperkenalkan diri-Nya sebagai sesembahan yang benar. Ini merupakan isyarat bahwa sebelum melakukan ibadah shalat dan ibadah-ibadah lainnya diwajibkan mengenal ilmu Tauhid. (Simpulan dari kitab Aisar at-Tafaasir li al-Kalaami al-Aliyyi al-Kabiir — Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)
- Sesungguhnya telah datang Kepada nabi Musa (ayat di atas ditujukan langsung kepada Nabi Musa) perkara yang besar maka bersiap-siaplah untuk perkara itu dan pusatkanlah segenap perasaanmu kepada perkara itu. Berarti hendaknya seluruh anggota tubuh tenang, telinga mendengarkan, hati hadir dan bertekad untuk fokus kepada hal tersebut yakni firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Musa yaitu إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا (Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku). Sesungguhnya kewajiban pertama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perkenalkan kepada Nabi Musa adalah Dzat tiada Tuhan yang benar selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya kemudian Nabi Musa diperkenalkan oleh Allah tentang kaimat selanjutnya yaitu فَاعْبُدْنِي (Maka sembahlah aku) ini isyarat beribadah itu ilmu cabang sedangkan yang pokok adalah ilmu tauhid. (Tafsir al-Maraghi — Syaikh Ahmad Musthafa al-Maraghi)
- Disebutkan shalat secara khusus di antara ibadah lainnya, ini menunjukkan bahwa ibadah shalat menempati kedudukan yang sangat utama dalam ibadah, akan tetapi sebaiknya jangan menyibukkandiri untuk mempelajari ilmu fikih tentang shalat sebelum mempelajari ilmu pokok, siapa yang berhak diibadahi dan mengapa kita harus beribadah kepada-Nya?. Dan inilah ilmu tauhid. (Tafsir al-Maraghi — Syaikh Ahmad Musthafa al-Maraghi)
- إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا (Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku). Dalam ayat ini menggambarkan bahwa kewajiban yang pertama yang wajib diketahui oleh seorang hamba adalah mengenal Ilah yang benar dan membuang semua Ilah yang bathil. Inilah kewajiban pertama yang dilimpahkan kepada para mukallaf (yang dikena kewajiban beribadah). (Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir — Ibnu Katsir)
CATATAN: Begitulah Nabi Musa diajari oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala beragama, setelah pembahasan sebelumnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam diajari hal yang sama (QS. Muhammad[47]: 19) bahkan semua Nabi dan Rasul diajarkan perkara tauhid merupakan perkara awal. Ikutilah episode selanjutnya: Nabi Isa alaihis salam diajari ilmu tauhid.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















