1. Jika pohon cinta telah kau tanam dalam hatimu, telah kau sirami dengan air keikhlasan dan kepatuhan kepada Kekasih, niscaya pohon cinta itu akan membuahkan berbagai macam buah yang kau sukai, yang dapat dinikmati tiap waktu seizin pemiliknya. Akarnya terhujam di dalam sanubari dan dahannya menjulang tinggi hingga mencapai sidratul muntaha. Upaya pencinta senantiasa naik menuju Kekasihnya tanpa ada sesuatu pun yang menghalanginya. (Madarijus Salikin)
يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ … (10)…
… Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya… (QS. Fathir[35]: 10)
2. Jika cinta Allah telah tertanam dalam hati, bekas-bekasnya akan tampak pada prilaku, berupa kesungguhan dalam menaati-Nya, giat mengabdi kepada-Nya, bersemangat mencari ridha-Nya, rela atas segala keputusan-Nya, rindu bertemu denga-Nya, merasa suka cita dengan menyebut-Nya, merasa sumpek dengan selain-Nya, lari dari manusia, bersunyi diri dalam khalwat, keluarnya dunia dari hati, mencintai setiap orang yang mencintai Allah dan mengutamakan-Nya atas selain-Nya. (At-Tashil li Ulumit-Tanzil.)
3. Hati yang sibuk dengan cinta, kehendak, suka cita dan kerinduan kepada selain Allah, tak mungkin sibuk dengan cinta, kehendak dan kerinduan untuk bertemu Allah, kecuali setelah hati dikosongkan dari semua itu. (Al-Fawa’id)
4. Seorang pencinta selalu menyendiri bersama Kekasihnya, dan merasa tenang dengan mengingat-Nya, seperti berlarinya ikan ke dalam air atau merangseknya bayi dari ibunya. (Al-Fawa’id)
5. Tidak ada tempat istrahat bagi abid (ahli ibadah) kecuali di bawah naungan pohon cinta Allah. Tak ada ketenangan bagi seorang pencinta kecuali pada hari penambahan. Sibuklah dengan Allah dalam kehidupan, niscaya Dia akan mencukupimu setelah kematian. (Al-Fawa’id)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















