Disyariatkannya berjama’ah untuk shalat lima waktu di Mekkah setelah turun perintah mengerjakannya, akan tetapi tidak begitu ditekankan bahkan bukan sesuatu yang wajib. Setelah Allah Subhanahu Wa Ta’ala mewajibkan shalat 5 waktu di malam Isra’ Mi’raj, Dia mengutus Jibril alaihis salam pada pagi harinya untuk mengajarkan manusia waktu-waktunya dan tatacara pelaksanaannya, di mana Jibril alaihis salam mengimami Nabi shallallahu alaihi wa sallam di depan ka’bah dua kali, shalat zhuhur di kali pertama saat tergelincirnya matahari.
Abdur Razzaq meriwayatkan dalam Mushannafnya [Jilid I/454-455 hadits no. 1773 kitab Shalat – bab keterangan diwajibkannya shalat]. Dari Ibnu Juraij, ia berkata, Nafi’ bin Jabir berkata: “Keesokan hari dari malam Isra Mi’raj Nabi shallallahu alaihi wa sallam dikejutkan oleh Jibril alaihis salam yang mendekati beliau saat tergelincirnya matahari. Makanya dinamai waktu pertama, lalu disuruh menyeru manusia ‘Shalat telah tiba’ (ash-Shalatu Jami’ah) maka mereka berkumpul lalu Jibril shalat dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sedang Nabi shalat bersama shahabat dua rakaat pertama, lalu memendekkan dua rakaat terakhir, kemudian Jibril bersalam tanda shalat selesai dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersalam di hadapan orang-orang pertanda shalat selesai.”
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat bersama beberapa sahabat namun belum beliau lakukan setiap waktu. Beliau shalat bersama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu di ruman al-Arqam juga bersama ummul mukminin, Khadijah radhiyallahu anha dan itu seusdah bermakmum pada Jibril alaihis salam.Meski demikian disyariatkannya shalat berjama’ah saat itu tidak begitu ditekankan, karena hal ini berlaku di Madinah sesudah hjrah. Lalu hal ini menjadi lambang yang tampak dari syariat-syariat Islam. Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata:
كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلَاةَ لَيْسَ يُنَادَى لَهَا فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلَا تَبْعَثُونَ رَجُلًا يُنَادِي بِالصَّلَاةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بِلَالُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلَاةِ
“Ketika Kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk shalat dengan cara memperkirakan waktunya, dan tidak ada panggilan untuk pelaksanaan shalat. Suatu hari mereka memperbincangkan masalah tersebut, di antara mereka ada yang mengusulkan lonceng seperi loncengnya Kaum Nashrani dan sebagaian lain mengusulkan untuk meniup terampet sebagaimana Kaum Yahudi. Maka ‘Umar pun berkata, “Mengapa tidak kalian suruh seseorang untuk mengumandangkan panggilan shalat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “Wahai Bilal, bangkit dan serukanlah panggilan shalat.” (Lihat Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari jilid 2/77 kitab Adzan bab 1 hadits no. 604)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















