CATATAN: Shalat Tidak Akan Batal Karena Meninggalkannya Baik Karena Sengaja Maupun Karena Lupa.
- Menghadapkan ujung jari-jari kedua tangan dan kaki ke kiblat pada saat sujud. Hal itu didasarkan pada hadits Abu Hamid As-Sa’idi (HR. Bukhari, Ibnu Khuzaimah).
- Menjauhkan (merenggangkan)kedua lengan atas dari kedua rusuknya pada saat sujud. Hal itu didasarkan pada hadits Abdullah bin Malik bin Buhainan (HR. Bukhari, Muslim).
- Merenggangkan perut dari kedua paha dan kedua paha dari kedua betis dan merenggangkannya antara kedua paha. Hal itu didasarkan pada hadits Abu Hamid (HR. Abu Dawud).
- Meletakkan kedua tangan sejajar dengan kedua pundak atau kedua telinga pada saat sujud, serta bersujud di antara keduanya. Hal itu didasarkan pada hadits Abu Hamis (HR. Abu Dawud, Tirmidzi), juga hadits Wa’il (HR. An-Nasa’i), serta hadits Al-Barra (HR. Bukhari, Muslim).
- Merapatkan kedua telapak kaki dan kedua tumit serta menegakkan keduanya pada saat sujud. Hal itu didasarkan pada hadits Aisyah (HR. Muslim, Ibnu Khuzaimah).
- Meperbanyak doa pada saat sujud. Hal itu didasarkan pada hadits Abu Hurairah (HR. Muslim), juga pada hadits Ibnu Abbas (HR. Muslim).
- Menduduki kaki kiri dan menegakkan telapak kaki kanan pada duduk antara dua sujud, juga pada tasyahud awal. Hal itu didasarkan pada hadits Aisyah (HR. Muslim).
- Meletakkan tangan kanan di atas paha kanan dan tangan kiri di atas paha kiri, atau meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut, atau meletakkan telapak tangan kanan di atas paha dan telapak tangan kiri di atas paha kiri seraya menyentuhkan telapak tangan kiri pada lutut kirinya. Hal itu didasarkan pada hadits Abdullah bin Az-Zubair dari Ayahnya (HR. Muslim), juga hadits Abdullah bin Umar (HR. Muslim).
- Meletakkan kedua lengan di atas kedua paha pada saat tasyahud dan pada waktu duduk di antara dua sujud. Hal itu didasarkan pada hadits Wa’il bin Hujr (HR. An-Nasa’i).
- Menggenggamkan jari kelingkin dan jari manis tagan kanan dan membuat lingkaran antara ibu jari dengan jari tengah, serta menunjukkan jari terlunjuk seraya menggerakkannya ke kiblat pada saat menyebut nama Allah dan pada saat berdo’a. Hal itu didasarkan pada hadits Wa’il bin Hujr (HR. Ibnu Majah).
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















